Minggu, 19 April 2015

Sejarah Desa Dompyongwetan, Kecamatan Gebang



ASAL-USUL
DESA DOMPYONG WETAN

Sumber :
Bapak Suhandi Bahtiar Bin Tarmid Soemintahardja

            Pada jaman dahulu kala di daerah Pagebangan berdiri sebuah kerajaan yang aman  dan sentosa, gemah ripah loh jinawi tata tentram kerta raharja, pada jaman itu masih disebut jaman pinayeun.
            Pagebangan adalah sebuah daerah di pantai utara Pulau Jawa, karena kearifan seorang raja inilah maka kerajaan tersebut termashur ke mancanegara. Kemashuran inilah di sebabkan daerahnya subur dan makmur,  tanah sawah menghijau senantiasa di jaga keasrian serta kaum nelayan diberi kebebasan untuk menggali kekayaan alam bahari. Semua pedagang diberi dan di arahkan untuk lebih maju, penduduk yang sebagian besar bermata pencaharian bercocok tanam ini di berikan penyuluhan-penyuluhan sesuai dengan kondisi waktu itu, sehingga hasil panen mereka mencukupi swa sembada pangan.
            Dengan keuletan dan kearifan beliau cara memerintah, tidak sedikit para senopati dan gegedeg dari kerajaan lain yang ingin berkunjung untuk studi banding. Dari kemashuran daerah kerajaan Pagebangan di daerah sepanjang pantai utara Pulau Jawa ini, banyak raja-raja yang mempunyai keinginan untuk mengunjunginya.
            Hubungan silaturahmi terjadi, mereka saling mengisi untuk kemajuan dan kemakmuran bersama. Adapun pangeran yang menduduki tahta singgasana kerajaan itu adalah Pangeran Sutajaya. Pangeran Sutajaya adalah seogang pangeran yang arif bijaksana, adil dalam memimpin pada pemerintah. Tidak mengherankan apabila kerajaan Pagebangan ini menjadi maju dalam waktu singkat, banyak masyarakat yang ingin mengabdikan diri kepada kerajaan ini. Sarana ibadah seperti langgar dan masjid terdapat di semua pelosok. Sehingga pelaksanaan keagamaan sangat harmonis, satu sama lainnya saling menghormati dan terdapat toleransi sehingga diantara mereka tidak ada perbedaan antara miskin dan kaya.
            Kebudayaan daerah betul-betul beliau bina seperti Tayuban, Seni Bajidoran dan Seni Burok dan sebagian Seni Keraton yaitu rudat yang bernafaskan islam yang di adakan setiap malam jum’at kliwon. Begitulah situasi suatu daerah yang di pimpin oleh seorang pemimpin yang bijaksana yang mempunyai nilai jiwa kemanusiaan yan sangat tinggi. Pada suatu hari Pangeran Sutajaya mengumpulkan para senopati dan penggawa untuk mengadakan musyawarah dalam rangka  tentang pembuatan bedug sebagai pelengkap sarana ibadah yaitu untuk memberi isyarat kepada umat islam di kala akan melaksanakan ibadah sholat, adapun kayu yang di pilih oleh pangeran yaitu kayu Widasari terdapat di daerah selatan yaitu daerah wanasari sekarang. Pada suatu saat pangeran sudah memilih kayu yang akan di buat bedug ini, tapi tak seorangpun yang mampu merobohkan kayu widasari itu, meskipun dengan sesajen dan mengerahkan semua tenaga dalam yang luar biasa. Maka dengan itu Pangeran mengadakan sayembara besar yang di tujukan kepada seluruh lapisan masyarakat baik di lingkungan kerajaan maupun di luar wilayah kekuasaan beliau.
            Isi Sayembara itu adalah “barang siapa yang dapat merobohkan kemudian dibuat bedug sampai selesai, maka kepadanya akan diberikan hadiah yaitu :
  1. Sebidang tanah sebelah selatan Pagebangan
  2. Akan di nikahkan dengan Puteri Ayu Kanjeng Sunan Pangeran Sutajaya.
            Setelah pengumuman sayembara itu menyebar luas kemana-mana, tak lama kemudian berdatangan para senopati-senopati pilihan untuk mengadu nasib demi mendapatkan hadiah dari Pangeran Sutajaya.  maka di mulailah sayembara itu, satu persatu peserta sayembara tidak ada yang berhasil. Diantaranya ada yang baru menggunakan kapak dan beberapa kali dikenai kayu itu sampai menggelepar-geleparkan mati. Bahkan ada juga yang baru 3 kali mengayunkan kapak sudah ampun-ampunan sampai keluar darah segar dari mulutnya. Banyak korban dari puluhan peserta yang terluka akibat mengikuti sayembara tersebut.
         Akhirnya Pangeran merasa kebingungan, kepada siapa lagi beliau meminta tolong seraya memanggil semua senopati dan penggawa untuk di minta pendapatnya tentang bagaimana jalan keluarnya.  Apapun segala kesulitan bagi Pangeran selalu di musyawarahkan bersama dengan para senopati dan para penggawa.
            Pada saat pangeran mengalami kesulitan, tiba-tiba datanglah seorang pemuda gagah perkasa, tandang pertentang mengerahkan ikat kepala dan langkahnya meyakinkan. Semua isi keraton terkesima atas kewibawaan dari langkah pemuda tersebut. Pemuda itu melangkah tanpa keraguan, seolah-olah seperti orang yang sudah kenal dengan lingkungan orang-orang keraton. Sesampainya menghadap Pangeran pemuda itu memberi salam hormat seraya berkata dengan kata-kat yang halus dan sopan :“Ampun kaula Kanjeng Pangeran, hamba datang dari jauh hanya untuk berbuat sesuatu yaitu melaksanakan apa yang hamba dengar tentang Sayembara yang pernah kanjeng sebarkan kepada semua orang. Oleh karena itu, izinkanlah hamba untuk sekedar mencoba atas perintah dan titah Pangeran’’. Akhirnya dengan senang hati Pangeran menerima dan mempersilahkan pemuda itu untuk mengerahkan dan membantu Pangeran, seraya berkata :’’Daulat penggawa kami semua mengizinkan pada saudara untuk berbuat dan melaksanakan dengan baik dan penuh hati-hati. Tapi, perkenankanlah pada kami siapa saudara dan berasal dari mana.
            ’’Baiklah kanjeng Pangeran, Bahwa hamba adalah orang desa yang jauh disana, hamba datang tanpa harapan dan imbalan, hamba adalah Raden Gentong yang berasal dari daerah selatan yaitu Desa Luragung. Usia hamba sekitar 12 tahun”. Demikian perkenalan dan pernyataan dari pemuda yang bernama Raden Gentong itu. Pangeran berterima kasih pada Gentong dan memepersilahkan untuk memulai pekerjaan dan mempersiapkan segala peralatan yang diperlukan.
            Dengan perasaan gembira sang pemuda itu pamit dan meminta do’a dan restu pada Pangeran serta pada sesepuh keraton. Gentong pun memulai dan mengerahkan semua tenaga dalam untuk merobohkan Pohon Widasari tersebut, tentunya memakan waktu yang cukup lama. Raden Gentong semakin penasaran terhadap Pohon Widasari yang memang telah memakan korban jiwa, dan semakin dahsyat tenaga yang dikeluarkannya. Semua prajurit dan pengikut keraton ikut menyaksikan kehebatan Raden Gentong itu. Akhirnya Pangeran beserta pengikutnya merasa terkejut dan kagum karena dengan kekuatan Bathinnya. Dalam waktu yang tidak lama akhirnya Pohon Widasari itu mulai miring, tiba-tiba dengan mudah pohon Widasari itu tumbang. Kekuatan tanaga dalam Raden Gentong yang luar biasa itu dengan memohon pada Illahi dapat merobohkan Pohon tersebut. Setelah Pohon Widasari itu Runtuh, tiba-tiba tatal-tatal kayu yang tadinya berwarna putih berubah menjadi seperti warna pelangi dan mengeluarkan cahaya. Hal ini tentunya menimbulkan keanehan bagi semua orang yang menyaksikannya. Sejak kejadian itu, maka daerah yang termasuk Desa Gembongan itu dan merupakan lokasi pekuburan, karena tatal kayu itu berwarna-warni maka dengan singkat daerah itu diberi nama Warna Sari.
            Pada mulanya sang Pangeran dan pejabat keraton satu pun tak mengira dan kurang yakin akan keberhasilan pemuda sayembara itu, namun karena ketagbahan dan keyakinan. Maka dengan perasaan gembira pohon yang di anggap oleh mereka hal yang tidak mungkin ada orang yang mampu untuk menumbangkannya. Tapi berkat kekuasaan Allah SWT dan iringan Do’a dari semua pihak, juga puteri Pangeran yang tiada henti-hentinya berdo’a agar pemuda ganteng itu berhasil tanpa ada aral yang melintang.
            “ Alhamdulillah......kita semua telah diberi berkah keselamatan lahir dan bathin, lalu harus bagaimana lagi Pangeran?” (ucap pemuda itu seraya mengerlingkan mata pada si cantik jelita). “wah..wah..wah Raden, kau memang pemuda idaman, kau memang pandai dan pantas untuk dijadikan Senopati”, dan tugas dariku satu lagi yaitu ‘membuat bedug yang terbuat dari kayu yang baru saja saudara robohkan (ucap pangeran).
            Akhirnya dengan kekuatan yang luar biasa kayu itu dibawa dan diseretnya dengan mudahnya untuk di hanyutkan ke sungai yang kemudian dibuat seperti rakit, kemudian kayu tersebut di angkat satu persatu oleh Raden Gentong. Konon sungai itu terdapat binatang-binatang buas. Ketika diperjalanan ada suatu hal aneh dan ajaib setelah Raden Gentong merakit dengan menaiki kayu itu. Sepanjang hutan warnasari sampai alun-alun keraton Pagebangan, dengan keanehan tiba-tiba sungai itu berubah menjadi jernih.
Setelah kayu itu dipotong menjadi 2 bagian, akan tetapi raden Gentong merasa kebingungan saat memotong kulit kerbau untuk di jadikan kulit dan dipasang pada ketiga bedug tersebut.
            Di saat Raden Gentong kebingungan, tiba-tiba ada seorang penduduk berpendapat tentang bahan pemasangan kulit bedug itu harus menggunakan jarum perunggu, akhirnya dengan rasa yang menggebu-gebu kemudian Raden mencari jarum perunggu itu, di dapatnya jarum tersebut dan terciptalah sebuah 3 bedug yang dimana disimpan untuk panggilan adzan umat Islam. Sehingga terdapat istilah JARUM yang berarti DOM (Bahasa Jawa). Ketiga bedug tersebut sudah dapat digunakan dan membawa keramaian masyarakat dalam menunaikan ibadah, KERAMAIAN pada saat itu istilahnya PYONG.
            Dengan kedua istilah tadi, terciptalah rangkaian kata DOMPYONG. DOM yang berarti Jarum dan PYONG yang berarti Keramaian yang luar biasa adalah dialog bahasa sunda pada waktu itu. Yang kemudian Pangeran mengambil kata DOMPYONG tadi untuk dijadikan sebuah nama Pedukuhan atau sebuah desa DOMPYONG yang mana akan ditempati oleh Raden Gentong sebagai hadiah dari Pangeran yaitu daerah Dompyong.
            Kemudian Raden Gentong membuat Rumah dan tinggal di daerah tersebut yang tepatnya di daerah pabokoran (sekarang) kurang lebih 200 meter ke arah selatan dari masjid lama Dompyong.
            Lambat laun berjalan akhirnya daerah tersebut memiliki warga yang kian bertambah, sehingga terciptalah sebuah perkampungan yang sudah ramai di bangun-bangun rumah untuk tempat tinggal mereka.
Pangeran dan keraton pun terkadang meminta bantuan kepada orang kaum buruh/kaum orang-orang yang kuli atau kerja kasar diambil dari daerah itu, karena banyak yang menjadi Buruh atau kuli maka daerah dompyongwetan bagian utara di namakan Blok Pakulian yang artinya orang-orang yang ahli dalam kuli/Kerja kasar.
Sedangkan taman yang sudah didiami oleh Raden Gentong kini di beri nama Taman Sari, sampai sekarang reruntuhan taman berserakan disana-sini karena kurang pedulinya warga dalam merawat peninggalan sesepuh mereka.
Lama kelamaan pedukuhan tersebut menjadi sebuah perkampungan yang sudah cukup banyak didiami warga yang membuat rumah/gubug baru untuk mereka. Maka di angkatlah Raden Gentong sebagai Kepala Daerah tersebut atau Kuwu. Raden Gentong mendapat julukan Buyut Jembar yang menjadi kepala desa pertama di Dompyong.

Adapun susunan Kepala Desa Dompyong berturut-turut adalah sebagai berikut :
1.                  Buyut Jembar                          Tahun     ---
2.                  Buyut Salijan                            Tahun    ---
3.                  Buyut Sadam                           Tahun    ---
4.                  Bapak tarwan                           Tahun 1899 - 1906
5.                  Bapak Natadiwangsa               Tahun 1906 - 1911
6.                  Bapak Cakradinata                  Tahun 1911 - 1917
7.                  Bapak Sumirah                        Tahun 1917 - 1920
8.                  Bapak H. Abdul Gani              Tahun 1920 - 1921
9.                  Bapak Kramadinata                 Tahun 1921 - 1923
10.              Bapak Sajum Sastrawinata      Tahun 1923 - 1927 
11.              Bapak H. Abdul Gani                Tahun 1927 - 1945 
12.              Bapak Markum                        Tahun 1945 - 1948 
13.              Bapak Astara                           Tahun 1948 - 1950
14.              Bapak Markum                        Tahun 1950 - 1951
15.              Bapak Suratman                      Tahun 1951 - 1956
16.              Bapak W. Sutrisno                   Tahun 1956 - 1967
17.              Bapak Amari                            Tahun 1967 – 1982
18.              Bapak Tjarlan                           Tahun 1981 - 1996
19.              Bapak Darsono                        Tahun 1996 - 2004
20.              Bapak Carna AS                     Tahun 2004 - 2012
21.              Bapak Didi Sutadi                    Tahun 2012 – 2018

Pada Tahun 1982 Desa Dompyong dimekarkan menjadi 2 desa berdasarkan SK Bupati tanggal 15 Juli 1982, yaitu :
1.                  Desa Dompyongwetan
2.                  Desa Dompyongkulon

Demikian riwayat singkat asal-usul Desa Dompyongwetan. Penyusun mengucapkan rasa berterima kasih banyak kepada semua pihak yang membantu juga kepada nara sumber yang telah memberikan waktu dan informasinya. Tak ada gading yang tak retak. Penyusun memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam menulis ataupun terhadap fakta yang sebenarnya, kemungkinan cerita yang singkat ini tidak sesempurna apa yang sebenarnya terjadi, karena manusia tak luput dari lupa dan dosa.  Mudah-mudahan sejarah singkat ini dapat dijadikan acuan kepada kita agar bisa melestarikan dan menjaga peninggalan bersejarah. Sekian terimakasih

 Penulis:
Arief Bahtiar, S.Pd.


1 komentar:

Raden Gentong mengatakan...

Dari data kepala desa yang dituliskan, bisa tuk jadi perkiraan desa Dompyong terbentuknya kapan itu?