ASAL-USUL
DESA DOMPYONG WETAN
Sumber :
Bapak Suhandi Bahtiar Bin Tarmid Soemintahardja
Pada jaman dahulu
kala di daerah Pagebangan berdiri sebuah kerajaan yang aman dan sentosa, gemah ripah loh jinawi tata
tentram kerta raharja, pada jaman itu masih disebut jaman pinayeun.
Pagebangan adalah
sebuah daerah di pantai utara Pulau Jawa, karena kearifan seorang raja inilah
maka kerajaan tersebut termashur ke mancanegara. Kemashuran inilah di sebabkan
daerahnya subur dan makmur, tanah sawah
menghijau senantiasa di jaga keasrian serta kaum nelayan diberi kebebasan untuk
menggali kekayaan alam bahari. Semua pedagang diberi dan di arahkan untuk lebih
maju, penduduk yang sebagian besar bermata pencaharian bercocok tanam ini di berikan
penyuluhan-penyuluhan sesuai dengan kondisi waktu itu, sehingga hasil panen
mereka mencukupi swa sembada pangan.
Dengan keuletan dan
kearifan beliau cara memerintah, tidak sedikit para senopati dan gegedeg dari
kerajaan lain yang ingin berkunjung untuk studi banding. Dari kemashuran daerah
kerajaan Pagebangan di daerah sepanjang pantai utara Pulau Jawa ini, banyak
raja-raja yang mempunyai keinginan untuk mengunjunginya.
Hubungan
silaturahmi terjadi, mereka saling mengisi untuk kemajuan dan kemakmuran
bersama. Adapun pangeran yang
menduduki tahta singgasana kerajaan itu adalah Pangeran Sutajaya. Pangeran
Sutajaya adalah seogang pangeran yang arif bijaksana, adil dalam memimpin pada
pemerintah. Tidak mengherankan apabila kerajaan Pagebangan ini menjadi maju
dalam waktu singkat, banyak masyarakat yang ingin mengabdikan diri kepada
kerajaan ini. Sarana ibadah seperti langgar dan masjid terdapat di semua
pelosok. Sehingga pelaksanaan keagamaan sangat harmonis, satu sama lainnya
saling menghormati dan terdapat toleransi sehingga diantara mereka tidak ada
perbedaan antara miskin dan kaya.
Kebudayaan
daerah betul-betul beliau bina seperti Tayuban, Seni Bajidoran dan Seni Burok
dan sebagian Seni Keraton yaitu rudat yang bernafaskan islam yang di adakan
setiap malam jum’at kliwon. Begitulah situasi suatu daerah yang di pimpin oleh
seorang pemimpin yang bijaksana yang mempunyai nilai jiwa kemanusiaan yan
sangat tinggi. Pada suatu hari Pangeran Sutajaya mengumpulkan para senopati dan
penggawa untuk mengadakan musyawarah dalam rangka tentang pembuatan bedug sebagai pelengkap
sarana ibadah yaitu untuk memberi isyarat kepada umat islam di kala akan
melaksanakan ibadah sholat, adapun kayu yang di pilih oleh pangeran yaitu kayu
Widasari terdapat di daerah selatan yaitu daerah wanasari sekarang. Pada suatu
saat pangeran sudah memilih kayu yang akan di buat bedug ini, tapi tak
seorangpun yang mampu merobohkan kayu widasari itu, meskipun dengan sesajen dan
mengerahkan semua tenaga dalam yang luar biasa. Maka dengan itu Pangeran
mengadakan sayembara besar yang di tujukan kepada seluruh lapisan masyarakat
baik di lingkungan kerajaan maupun di luar wilayah kekuasaan beliau.
Isi Sayembara itu adalah “barang siapa yang dapat merobohkan
kemudian dibuat bedug sampai selesai, maka kepadanya akan diberikan hadiah
yaitu :
- Sebidang tanah sebelah selatan Pagebangan
- Akan di nikahkan dengan Puteri Ayu Kanjeng Sunan Pangeran Sutajaya.
Setelah pengumuman
sayembara itu menyebar luas kemana-mana, tak lama kemudian berdatangan para
senopati-senopati pilihan untuk mengadu nasib demi mendapatkan hadiah dari
Pangeran Sutajaya. maka di mulailah
sayembara itu, satu persatu peserta sayembara tidak ada yang berhasil.
Diantaranya ada yang baru menggunakan kapak dan beberapa kali dikenai kayu itu
sampai menggelepar-geleparkan mati. Bahkan ada juga yang baru 3 kali
mengayunkan kapak sudah ampun-ampunan sampai keluar darah segar dari mulutnya.
Banyak korban dari puluhan peserta yang terluka akibat mengikuti sayembara
tersebut.
Akhirnya Pangeran
merasa kebingungan, kepada siapa lagi beliau meminta tolong seraya memanggil
semua senopati dan penggawa untuk di minta pendapatnya tentang bagaimana jalan
keluarnya. Apapun segala kesulitan bagi
Pangeran selalu di musyawarahkan bersama dengan para senopati dan para
penggawa.
Pada saat pangeran
mengalami kesulitan, tiba-tiba datanglah seorang pemuda gagah perkasa, tandang
pertentang mengerahkan ikat kepala dan langkahnya meyakinkan. Semua isi keraton
terkesima atas kewibawaan dari langkah pemuda tersebut. Pemuda itu melangkah
tanpa keraguan, seolah-olah seperti orang yang sudah kenal dengan lingkungan
orang-orang keraton. Sesampainya menghadap Pangeran pemuda itu memberi salam
hormat seraya berkata dengan kata-kat yang halus dan sopan :“Ampun kaula Kanjeng Pangeran, hamba datang
dari jauh hanya untuk berbuat sesuatu yaitu melaksanakan apa yang hamba dengar
tentang Sayembara yang pernah kanjeng sebarkan kepada semua orang. Oleh karena
itu, izinkanlah hamba untuk sekedar
mencoba atas perintah dan titah Pangeran’’. Akhirnya dengan senang hati
Pangeran menerima dan mempersilahkan pemuda itu untuk mengerahkan dan membantu
Pangeran, seraya berkata :’’Daulat
penggawa kami semua mengizinkan pada saudara untuk berbuat dan melaksanakan
dengan baik dan penuh hati-hati. Tapi, perkenankanlah pada kami siapa saudara
dan berasal dari mana.
’’Baiklah kanjeng Pangeran, Bahwa
hamba adalah orang desa yang jauh disana, hamba datang tanpa harapan dan
imbalan, hamba adalah Raden Gentong yang berasal dari daerah selatan yaitu Desa
Luragung. Usia hamba sekitar 12 tahun”. Demikian perkenalan dan pernyataan dari pemuda
yang bernama Raden Gentong itu. Pangeran berterima kasih pada Gentong dan
memepersilahkan untuk memulai pekerjaan dan mempersiapkan segala peralatan yang
diperlukan.
Dengan perasaan gembira sang pemuda itu pamit dan
meminta do’a dan restu pada Pangeran serta pada sesepuh keraton. Gentong pun
memulai dan mengerahkan semua tenaga dalam untuk merobohkan Pohon Widasari
tersebut, tentunya memakan waktu yang cukup lama. Raden Gentong semakin
penasaran terhadap Pohon Widasari yang memang telah memakan korban jiwa, dan
semakin dahsyat tenaga yang dikeluarkannya. Semua prajurit dan pengikut keraton ikut
menyaksikan kehebatan Raden Gentong itu. Akhirnya Pangeran beserta pengikutnya merasa terkejut dan kagum karena dengan
kekuatan Bathinnya. Dalam waktu yang tidak lama akhirnya Pohon Widasari itu
mulai miring, tiba-tiba dengan mudah pohon Widasari itu tumbang. Kekuatan
tanaga dalam Raden Gentong yang luar biasa itu dengan memohon pada Illahi dapat
merobohkan Pohon tersebut. Setelah Pohon Widasari itu Runtuh, tiba-tiba tatal-tatal
kayu yang tadinya berwarna putih berubah menjadi seperti warna pelangi dan
mengeluarkan cahaya. Hal ini tentunya menimbulkan keanehan bagi semua orang
yang menyaksikannya. Sejak kejadian itu, maka daerah yang termasuk Desa
Gembongan itu dan merupakan lokasi pekuburan, karena tatal kayu itu
berwarna-warni maka dengan singkat daerah itu diberi nama Warna Sari.
Pada
mulanya sang Pangeran dan pejabat keraton satu pun tak mengira dan kurang yakin
akan keberhasilan pemuda sayembara itu, namun karena ketagbahan dan keyakinan.
Maka dengan perasaan gembira pohon yang di anggap oleh mereka hal yang tidak
mungkin ada orang yang mampu untuk menumbangkannya. Tapi berkat kekuasaan Allah
SWT dan iringan Do’a dari semua pihak, juga puteri Pangeran yang tiada
henti-hentinya berdo’a agar pemuda ganteng itu berhasil tanpa ada aral yang
melintang.
“ Alhamdulillah......kita semua telah diberi
berkah keselamatan lahir dan bathin, lalu harus bagaimana lagi Pangeran?” (ucap pemuda itu seraya mengerlingkan
mata pada si cantik jelita). “wah..wah..wah
Raden, kau memang pemuda idaman, kau memang pandai dan pantas untuk dijadikan
Senopati”, dan tugas dariku satu lagi yaitu ‘membuat bedug yang terbuat dari kayu yang baru saja saudara
robohkan (ucap pangeran).
Akhirnya
dengan kekuatan yang luar biasa kayu itu dibawa dan diseretnya dengan mudahnya
untuk di hanyutkan ke sungai yang kemudian dibuat seperti rakit, kemudian kayu
tersebut di angkat satu persatu oleh Raden Gentong. Konon sungai itu terdapat
binatang-binatang buas. Ketika diperjalanan ada suatu hal aneh dan ajaib
setelah Raden Gentong merakit dengan menaiki kayu itu. Sepanjang hutan
warnasari sampai alun-alun keraton Pagebangan, dengan keanehan tiba-tiba sungai
itu berubah menjadi jernih.
Setelah kayu itu dipotong menjadi 2
bagian, akan tetapi raden Gentong merasa kebingungan saat memotong kulit kerbau
untuk di jadikan kulit dan dipasang pada ketiga bedug tersebut.
Di
saat Raden Gentong kebingungan, tiba-tiba ada seorang penduduk berpendapat
tentang bahan pemasangan kulit bedug itu harus menggunakan jarum perunggu,
akhirnya dengan rasa yang menggebu-gebu kemudian Raden mencari jarum perunggu
itu, di dapatnya jarum tersebut dan terciptalah sebuah 3 bedug yang dimana disimpan
untuk panggilan adzan umat Islam. Sehingga terdapat istilah JARUM yang berarti DOM (Bahasa Jawa). Ketiga bedug tersebut sudah dapat digunakan dan
membawa keramaian masyarakat dalam menunaikan ibadah, KERAMAIAN pada saat itu istilahnya PYONG.
Dengan
kedua istilah tadi, terciptalah rangkaian kata DOMPYONG. DOM yang berarti Jarum dan PYONG yang berarti Keramaian
yang luar biasa adalah dialog bahasa sunda pada waktu itu. Yang kemudian
Pangeran mengambil kata DOMPYONG tadi
untuk dijadikan sebuah nama Pedukuhan atau sebuah desa DOMPYONG yang mana akan ditempati oleh Raden Gentong sebagai hadiah
dari Pangeran yaitu daerah Dompyong.
Kemudian
Raden Gentong membuat Rumah dan tinggal di daerah tersebut yang tepatnya di
daerah pabokoran (sekarang) kurang lebih 200 meter ke arah selatan dari masjid
lama Dompyong.
Lambat
laun berjalan akhirnya daerah tersebut memiliki warga yang kian bertambah,
sehingga terciptalah sebuah perkampungan yang sudah ramai di bangun-bangun
rumah untuk tempat tinggal mereka.
Pangeran dan keraton pun terkadang
meminta bantuan kepada orang kaum buruh/kaum orang-orang yang kuli atau kerja
kasar diambil dari daerah itu, karena banyak yang menjadi Buruh atau kuli maka
daerah dompyongwetan bagian utara di namakan Blok Pakulian yang artinya orang-orang
yang ahli dalam kuli/Kerja kasar.
Sedangkan taman yang sudah didiami
oleh Raden Gentong kini di beri nama Taman Sari, sampai sekarang reruntuhan
taman berserakan disana-sini karena kurang pedulinya warga dalam merawat
peninggalan sesepuh mereka.
Lama kelamaan pedukuhan tersebut
menjadi sebuah perkampungan yang sudah cukup banyak didiami warga yang membuat
rumah/gubug baru untuk mereka. Maka di angkatlah Raden Gentong sebagai Kepala
Daerah tersebut atau Kuwu. Raden Gentong mendapat julukan Buyut Jembar yang
menjadi kepala desa pertama di Dompyong.
Adapun susunan Kepala Desa Dompyong berturut-turut
adalah sebagai berikut :
1.
Buyut Jembar Tahun ---
2.
Buyut Salijan Tahun ---
3.
Buyut Sadam Tahun ---
4.
Bapak tarwan Tahun 1899 - 1906
5.
Bapak Natadiwangsa Tahun 1906 - 1911
6.
Bapak
Cakradinata Tahun 1911 - 1917
7.
Bapak Sumirah Tahun 1917 - 1920
8.
Bapak H.
Abdul Gani Tahun 1920 - 1921
9.
Bapak
Kramadinata Tahun 1921 -
1923
10.
Bapak Sajum
Sastrawinata Tahun 1923 - 1927
11.
Bapak H.
Abdul Gani Tahun 1927 - 1945
12.
Bapak Markum Tahun 1945 - 1948
13.
Bapak Astara Tahun 1948 - 1950
14.
Bapak Markum Tahun 1950 - 1951
15.
Bapak
Suratman Tahun 1951 -
1956
16.
Bapak W.
Sutrisno Tahun 1956 -
1967
17.
Bapak Amari Tahun 1967 – 1982
18.
Bapak Tjarlan Tahun 1981 - 1996
19.
Bapak Darsono Tahun 1996 - 2004
20.
Bapak Carna
AS Tahun 2004 - 2012
21.
Bapak Didi
Sutadi Tahun 2012 – 2018
Pada Tahun 1982 Desa Dompyong
dimekarkan menjadi 2 desa berdasarkan SK Bupati tanggal 15 Juli 1982, yaitu :
1.
Desa
Dompyongwetan
2.
Desa
Dompyongkulon
Demikian riwayat singkat asal-usul
Desa Dompyongwetan. Penyusun mengucapkan rasa berterima kasih banyak kepada
semua pihak yang membantu juga kepada nara sumber yang
telah memberikan waktu dan informasinya. Tak ada gading yang tak retak.
Penyusun memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam menulis ataupun terhadap
fakta yang sebenarnya, kemungkinan cerita yang singkat ini tidak sesempurna apa
yang sebenarnya terjadi, karena manusia tak luput dari lupa dan dosa. Mudah-mudahan sejarah singkat ini dapat
dijadikan acuan kepada kita agar bisa melestarikan dan menjaga peninggalan
bersejarah. Sekian terimakasih
Penulis:
Arief
Bahtiar, S.Pd.
1 komentar:
Dari data kepala desa yang dituliskan, bisa tuk jadi perkiraan desa Dompyong terbentuknya kapan itu?
Posting Komentar